JAKARTA (SI) – Kenaikan harga bijih besi (iron ore) yang merupakan bahan baku industri baja berdampak pada harga baja dalam negeri yang mulai merangkak naik pada April 2010.
Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (KS) Irvan Kamal Hakim mengatakan, tren kenaikan harga baja baik internasional maupun dalam negeri akan terjadi hingga Juni 2010. Harga baja internasional diprediksiikan akan berada pada kisaran USD750-900 per ton untuk baja canai panas (hot rolled coils/ HRC) atau baja pelat hitam. KS, kata dia, sudah satu pekan menghentikan transaksi karena ingin mengetahui arah kenaikan dari harga bahan baku tersebut. Di antaranya,yaitu bijih besi dan scrap atau besi tua. Untuk biji besi, menurutnya, diperkirakan naik hingga 70% pada 2010.
Jakarta - Perusahaan asal India, Essar tertarik untuk berinvestasi pembangunan kilang minyak mini dengan kapasitas minimal 300.000 barel barel per hari (bph). Mereka siapkan dana hingga US$ 5 miliar.
"Dia sangat berminat," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Evita Herawati Legowo di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (10/3/2010).
Untuk itu, Evita menyatakan pihaknya akan menfasilitasi perusahaan asal India itu untuk bertemu dengan PT Pertamina (Persero) karena BUMN Migas tersebut berencana untuk membangun kilang di Tuban, Balongan, dan Banten.
Note :
Harga di atas adalah hasil analisa steelindonesia.com, dari berbagai sumber.
Lengkapi data perusahaan anda dan tampilkan di steelindonesia.com secara gratis.
KLIK DISINI
steelindonesia.com menyediakan ruang promosi yang sangat tepat dan menguntungkan bagi perusahaan yang akan mempromosikan produk maupun jasanya.
Iklan dalam bentuk animasi sehingga target promosi anda akan maksimal ditampilkan untuk dapat dibaca publik.
Segera pesan ruang ini dan hubungi :
marketing@steelindonesia.com
Telp. +6221-93273237/8
Dari SteelIndonesia
Gerakan penggunaan produk dalam negeri sedang menjadi buah bibir dan perbincangan hangat banyak kalangan, hal ini berkembang sejak terjadinya serangan barang-barang murah dari luar ke Indonesia. Bahkan disinyalir barang-barang yang masuk termasuk barang-barang hulu yang sebenarnya sudah mampu diproduksi di dalam negeri.
Ini akan menjadi "PR" Pemerintah untuk mengantisipasi dan melakukan langkah preventif untuk mengamankan produksi dalam negeri.
Barang-barang yang masuk ke dalam negeri memang terkait adanya permintaan pasar lokal yang cenderung memberikan harga yang lebih murah walaupun kwalitas produk belum tentu lebih bagus dengan produk lokal.
Langkah Pemerintah sejauh ini sudah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait termasuk asosiasi-asosiasi yang memiliki kepentingan langsung dengan masalah pengadaan material tersebut maupun instansi terkait. Namun langkah yang ditempuh masih memerlukan ekstra kerja keras, terutama hal pengawasan dikarenakan masuknya barang impor terbuka luas melalui pelabuhan-pelabuhan yang ada di Indonesia.
Kondisi ini akan menjadi hikmah bahwa mau tidak mau semua pihak harus berbenah, dan pemberlakuan standardisasi produk dalam negeri harus mulai digalakan apalagi menghadapi AFTA 2010.
Rubrik ini disediakan bagi pemerhati industri, konstruksi dan bisnis yang terkait dengan besi dan baja.