Selamat datang di steelindonesia.com,  Daftar Masuk 
 
Berita Seputar Industri Besi dan Baja

Pemerintah Usulkan Kenaikan Harga BBM dan Listrik pada 2013

Jumat, 1 Juni 2012

Oleh: NURSEFFI DWI WAHYUNI & WILDA ASMARINI

JAKARTA (IFT) - Pemerintah kembali merencanakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada 2013. Evita Herawati Legowo, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan penyesuaian harga tersebut merupakan bagian pengendalian konsumsi komoditas tersebut.

Pemerintah mengusulkan kuota BBM bersubsidi dan bahan bakar nabati (BBN) pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013 sebesar 45 juta-48 juta kiloliter, naik dari kuota dalam APBN Perubahan 2012 sebesar 40 juta kiloliter. Kenaikan kuota BBM pada tahun depan itu dengan pertimbangan konsumsi BBM bersubsidi pada tahun ini yang diperkirakan menjadi 44 juta kiloliter dengan pertumbuhan konsumsi BBM bersubsidi sebesar 9% per tahun.

"Proyeksi volume BBM bersubsidi pada 2013 tersebut dengan memperhatikan tingkat keberhasilan dari program penghematan BBM bersubsidi pada 2012 dan kelanjutannya," ujar Evita, Kamis.

Menurut Evita, asumsi kuota BBM bersubsidi sebesar 45 juta kiloliter pada 2013, bisa direalisasikan bila program penghematan BBM pada tahun ini tetap diimplementasikan dan adanya kenaikan harga jual BBM bersubsidi. Sementara asumsi 48 juta kiloliter itu bila program penghematan dan kenaikan harga jual BBM bersubsidi pada tahun depan tidak dijalankan. "Tapi kami belum sampai pada rencana besaran kenaikan harganya," jelas dia.

Adapun volume BBM dan BBN sebesar 45 juta-48 juta kiloliter itu terdiri atas premium plus bioethanol sebesar 28,7 juta-30 juta kiloliter, naik dari 24,41 juta kiloliter pada APBN Perubahan 2012, solar dan biodiesel sebesar 15-16,7 juta kiloliter, naik dari kuota tahun ini 13,89 juta kiloliter, serta kerosin (minyak tanah) menjadi 1,30 juta kiloliter, turun dari 1,70 juta  pada tahun ini.

Hingga 28 Mei 2012, konsumsi BBM bersubsidi telah mencapai 17,52 juta kiloliter atau 43,8% dari kuota tahun ini 40 juta kiloliter, terdiri atas premium sebesar 10,97 juta kiloliter, solar 6,06 juta kiloliter, dan kerosin 490 ribu kiloliter.

Selain kenaikan kuota BBM, Evita memperkirakan biaya pendistribusian dan marjin (alpha) BBM bersubsidi pada Rancangan APBN 2013 menjadi rata-rata Rp 703,45 per liter dari alpha rata-rata pada tahun ini Rp 641,94 per liter. Asumsi alpha pada 2013 berdasarkan formula baru hasil kajian paparan antara pemerintah dan DPR pada 8 September 2011 dengan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar US$ 115 per barel dan kurs Rp 9.000. Sementara alpha pada tahun ini dengan asumsi ICP sebesar US$ 105 per barel.

Alpha premium diusulkan naik menjadi Rp 685,51 per liter dari Rp 663,44 per liter pada tahun ini, alpha solar naik menjadi Rp 751,16 per liter dari Rp 630,77 per liter, dan alpha kerosene naik menjadi Rp 596,62 per liter dari Rp 424,37 per liter. "Namun angka asumsi alpha tersebut bisa berubah tergantung asumsi ICP dan kurs," ujarnya.

Subsidi BBN juga diusulkan ditambah menjadi Rp 3.000 per liter untuk biodiesel dan Rp 3.500 per liter untuk bioethanol. Kenaikan subsidi BBN itu dikarenakan harga BBN cenderung menurun dibandingkan harga BBM, namun penyediaannya masih di atas harga BBM. Biodiesel diusulkan mencapai 1.125-1.250 ribu kiloliter dan bioethanol sebanyak 287-300 ribu kiloliter.

Dengan tambahan subsidi biodiesel menjadi Rp 3.000 per liter, alokasi subsidi untuk biodiesel diperkirakan mencapai Rp 3,37 triliun-Rp 3,75 triliun dan subsidi bioethanol diperkirakan mencapai Rp 1 triliun-Rp,05 triliun.

Dito Ganinduto, anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat, mengatakan pemerintah harus mengevaluasi kembali konsumsi BBM selama lima tahun terakhir guna melihat tren konsumsi, sehingga saat kuota BBM bersubsidi telah ditentukan, nantinya tidak lagi terjadi kekurangan kuota yang selama ini sering terjadi.

Effendi Simbolon, Wakil Ketua Komisi VII Dewan, mengimbau agar pemerintah beserta PT Pertamina (Persero) dan Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas melakukan perencanaan yang baik untuk menentukan dan menjalankan kuota BBM bersubsidi. Dia khawatir, bila perencanaan ini tidak matang, maka akan kembali lagi terjadi masalah kekurangan pasokan.

Rinaldy Dalimi, anggota Dewan Energi Nasional, mengatakan harga BBM bersubsidi harus dinaikkan, namun pemerintah disarankan mencari waktu yang tepat untuk mengurangi risiko kenaikan tersebut. Dewan juga diharapkan dapat menyetujui usulan pemerintah tersebut dan tidak mengaitkan kenaikan itu dengan persiapan pemilihan umum pada 2014.

Kurtubi, Direktur Center for Petroleum and Energy Economic Studies, mengatakan kenaikan harga BBM wajar dilakukan karena saat ini komoditas tersebut dijual di bawah biaya pokok produksinya. Namun, sebelum menaikkan harga BBM subsidi, pemerintah harus melaporkan ke publik berapa biaya pokok produksi BBM subsidi per liter. Dengan diketahuinya angka itu, masyarakat jadi mengetahui berapa besaran subsidi BBM yang diberikan pemerintah.

"Sekarang ini untuk hitungan subsidi itu mengacu pada MOPS (Mid Oil Price of Singapore) ditambah alpha, bukan biaya pokok. Perhitungan besaran subsidi yang jujur dan adil itu harus mengacu kepada biaya poduksi," tegasnya. 

Tarif Listrik

Pemerintah juga berencana menaikkan harga tarif dasar listrik (TDL) pada 2013 sebesar 5%-15% untuk menekan subsidi listrik. Jarman, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan Kementerian Energi telah menyiapkan dua skenario kenaikan TDL pada tahun depan, yakni untuk berlaku per 1 Januari 2013 atau 1 April 2013.

"Bila kenaikan TDL berlaku per 1 Januari 2013 dan dengan asumsi pertumbuhan penjualan listrik sebesar 8% dan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sekitar US$ 100-US$ 120 per barel, maka besaran subsidi diperkirakan sebesar Rp 80,55 triliun-Rp 84,8 triliun," tuturnya di Jakarta, Kamis.

Namun, bila asumsi pertumbuhan penjualan listrik sebesar 9%, kenaikan TDL pada 1 Januari 2013 mengakibatkan besaran subsidinya lebih kecil, yakni sekitar Rp80,12 triliun hingga Rp84,48 triliun. Sementara bila kenaikan diterapkan mulai 1 April 2013, maka perkiraan subsidi listrik pada tahun depan sekitar Rp 85,5 triliun-Rp 86,45 triliun. Itu juga dengan asumsi pertumbuhan penjualan listrik sebesar 8% dan ICP sekitar US$ 100-US$ 120 per barel.

Bila menggunakan asumsi penjualan listrik sebesar 9%, maka kenaikan TDL per 1 April 2013 diperkirakan mengakibatkan subsidi menjadi Rp 85,1 triliun-Rp 86,14 triliun. "Kalau kenaikan tarif listrik tidak jadi dilakukan tahun depan, maka subsidi listriknya diperkirakan menjadi sekitar Rp 91,39 triliun-Rp 100,32 triliun," ujarnya.

Dia mengatakan, dengan perkiraan pertumbuhan penjualan listrik sebesar 8%-9%, pihaknya memperkirakan penjualan listrik pada tahun depan naik menjadi 180,61 tera watt hour (TWh)-182,28 TWh dari penjualan listrik yang ditargetkan tahun ini sebesar 167,23 TWh. Untuk susut jaringan (losses) menurutnya diperkirakan tetap sebesar 8,50%. Begitu juga dengan margin usaha diperkirakan tetap sebesar 7%.

"BPP tenaga listrik diperkirakan sekitar Rp 1.151-Rp 1.204 per kW atau setara Rp 209,03 triliun-Rp 218,17 triliun, naik dibandingkan perkiraan BPP tahun ini sebesar Rp 192,64 triliun," ujarnya. (*)

IFT

Steel News
SteelBB

SBB writes original, independent, global steel news and steel price information. We produce steel industry reports, conduct bespoke research, create maps and hold steel industry events around the world.


Metal Bulletin

Metal Bulletin is the leading source of the very latest global steel and metals market news, prices and expert analysis


Steel Guru

Online billet price in India, Tmt Bar Price, Rebar price, HDG, Galvanized Price in India, Cr Coil Price, cold Roll Prcie, Hr coil Price, iron ore Prcie


Steel.org

American Iron and Steel Institute


World Steel

World Steel Association


MEPS (International) LTD

MEPS (International) LTD is a leading consultancy company operating in the steel sector worldwide.


Steel Orbis

SteelOrbis is a unique e-marketplace and market intelligence provider that offers up-to-date news on the steel industry and steel trading from one single source.


Share |

Komentar Anda :



Info terkait :